Selasa, 2009 April 28

PENCEMARAN LINGKUNGAN


Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

Pencemaran (polusi) adalah proses masuknya polutan ke dalam suatu lingkungan sehingga menurunkan mutu lingkungan. Sedang yang dimaksud lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik berupa faktor abiotik (benda mati) maupun faktor biotik (makhluk hidup).Sementara itu, yang dimaksud polutan adalah bahan pencemar lingkungan, dapat berupa bahan kimia, debu, panas, suara, radiasi, dan mikroorganisme.Suatu zat dikategorikan polutan (bahan pencemar) apabila kadarnya melebihi batas kewajaran serta berada pada waktu dan tempat yang tidak tepat.

Berdasarkan sifat polutannya, pencemaran dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu : 1. Pencemaran Kimiawi, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh zat-zat kimia.2. Pencemaran Fisikawi, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh zat cair, zat padat, dan gas. 3. Pencemaran Biologis, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Sementara itu, berdasarkan tempatnya, pencemaran dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :

air, udara, tanah dan udara. Beberapa istilah dalam pencemaran adalah :

1. Penyakit Minamata adalah penyakit akibat penimbunan logam berat merkuri (raksa).

2. Eutrofikasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat dari gulma air akibat kelebihan sisa

pupuk yang terbawa air.

3. DDT (Dikloro Diphenyl Trikloroetana) adalah salah satu jenis insektisida yang sangat

Berbahaya karena tidak dapat terurai di alam.

4. Efek Rumah Kaca ( Green House Effect ) adalah meningkatnya kadar CO2 di

atmosfer akibat asap dari cerobong baprik dan kendaraan bermotor yang menghalangi

pantulan panas dari bumi sehingga bumi makin lama makin panas.

5. Hujan asam adalah hujan yang bercampur dengan oksida nitrogen (NO2 dan NO3)

dan oksida belerang (SO2 dan SO3).

A. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat !

1. Tuliskan dengan singkat pengertian dari pencemaran (polusi) !

2. Jelaskan pengertian dari lingkungan !

3. Apa yang dimaksud dengan polutan ?

4. Sebutkan kriteria suatu zat disebut sebagai bahan pencemar (polutan) !

5. Sebutkan macam pencemaran berdasarkan sifat polutannya !

6. Sebutkan pula macam pencemaran berdasarkan tempat terjadinya pencemaran !

7. Bagaimana penyakit Minamata bisa terjadi pada manusia ? Jelaskan !

8. Jelaskan bagaimana peristiwa eutrofikasi bisa terjadi !

9. Mengapa kita tidak diperbolehkan menggunakan gas CFC ? Jelaskan !

10. Jelaskan dengan singkat proses terjadinya hujan asam !

B. Tugas Kelompok :

Buatlah kliping secara kelompok yang terdiri dari 5 siswa tentang pencemaran

lingkungan. Pilihlah salah satu pencemaran boleh pencemaran air, tanah, udara

maupun suara minimal 5 halaman. Materi bisa diambil dari koran, majalah maupun

internet !

Minggu, 2009 Maret 29

MENUMBUHSUBURKAN ETIKA LINGKUNGAN PADA SISWA

Oleh : Mahfud
Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

1. RASIONAL
Di saat negara sedang genjar-genjarnya kampanye legislatif, tiba-tiba kita dikejutkan adanya berita jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Saat itu, hari Sabtu dini hari, 27 Maret 2009 sekitar pukul 03.30 air bah yang mirip tsunami menyapu bersih pemukiman penduduk di pinggiran selatan ibu kota Jakarta. Menurut pantauan Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Tangerang Selatan, areal yang terendam air sekitar 10 hektar.Sedang menurut Posko Utama Penanggulangan Bencana Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) mencatat korban tewas 63 orang dan 80 orang hilang ( Jawa Pos, 28 Maret 2009).
Sementara itu, menurut harian Kompas, jebolnya tanggul buatan Belanda tahun 1932 ini menghancurkan 300 rumah, korban tewas mencapai 65 orang, 98 orang hilang dan 52 orang cedera, dan 25 orang dirawat di rumah sakit Fatmawati(Kompas, 28 Maret 2009 ). Berdasarkan realita di atas, maka muncullah pertanyaan, mengapa ini semua dapat terjadi ? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu jawabnya beragam.Tergantung dari pola pikir kita masing-masing. Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Pitoyo Subandrio, jebolnya tanggul Situ Gintung karena hujan deras yang turun 5 jam tanpa henti (Jawa Pos, 30 Maret 2009). Sedang menurut seniman seperti Ebiet G. Ade jawabnya mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersabat dengan kita, coba kita bertanya kepada rumput yang bergoyang. Namun, ada satu hal yang dilupakan banyak pihak, bahwa sejak jaman Belanda ada larangan membangun rumah atau bangunan di sekitar waduk Situ Gintung pada radius 1 km2 . Selain itu, hutan di hulu sungai yang biasanya menyimpan air hujan sudah sudah dibabat habis manusia (Jawa Pos, 30 Maret 2009).Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa manusia membangun rumah dan membabat hutan di sekitar waduk Situ Gintung ?Salah satu jawabannya adalah bahwa mereka tidak atau kurang mempunyai etika lingkungan sehingga kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut A.Sonny Keraf (2007), yang dimaksud etika lingkungan adalah filsafat (pandangan) hidup secara damai dengan alam, baik tumbuhan, hewan, mikroorganisme maupun benda-benda mati yang ada di sekitarnya. Artikel ini akan membahas bagaimana menumbuhsuburkan etika lingkungan kepada siswa berdasarkan pengalaman penulis menjadi guru selama 18 tahun di Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia (YPPI), khususnya SMP YPPI – 2 Surabaya.
2. Bentuk Kegiatan
Ada beberapa kegiatan yang dapat digunakan untuk menumbuhsuburkan sikap etika lingkungan, antara lain :
a. GHL ( Gunung, Hutan dan Laut )
Program GHL ini merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti siswa dan guru mulai jenjang TK, SD, SMP, dan SMA yang dilaksanakan setiap tahun sekali, kegiatannya mirip dengan out bound, namun materi dan waktu disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing.Kegiatan ini dimulai sejak 1986 sampai sekarang masih berlangsung. Alasan diadakan kegiatan ini disamping menumbuhsuburkan etika lingkungan adalah selama ini siswa kami hidup di kota besar ( Surabaya ) yang segalanya serba konsumtif dan individualistis maka dengan adanya GHL ini mereka diperkenalkan langsung dengan lingkungan alam nyata bukan sekedar teori di kelas yang bersifat verbalistik. Hidup berkelompok dalam satu regu, saling tolong menolong antara satu dengan yang lain.Contoh kegiatan, misalnya paket kegiatan menghitung jumlah populasi makhluk hidup secara simple random sampling di hutan Mahoni (Swetenia mahagoni)
Trawas – Mojokerto (1995), Identifikasi Biota Laut di pantai Tuban (2006), Pendidikan Lingkungan Hidup dan Budaya Jawa di Kaliandra (2007). Disamping itu, juga diisi diskusi, yel-yel, game, jurit malam dan api unggun. Dengan adanya kegiatan di atas diharapkan siswa sejak TK, SD, SMP, dan SMA mulai mengenal alam nyata berupa gunung, hutan dan laut. Hal ini bertujuan agar siswa setelah keluar dari YPPI dan terjun ke masyarakat, mereka telah mempunyai bekal berupa sikap etika lingkungan.
b. Cinta Puspa
Cinta Puspa adalah nama kegiatan di YPPI dimana setiap siswa mulai tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas (Universitas Widya Kartika) wajib mengadakan reproduksi tanaman bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) dan umumnya tanaman hias yang lain dengan stek. Setiap siswa atau mahasiswa wajib membuat stek minimal 10 stek kemudian dipelihara di sekolah (green hause) selama 6 bulan. Oleh sebab itu, peran wali kelas dan Guru Biologi sangat penting dalam mengontrol kondisi tanaman. Setelah 6 bulan, tanaman hias sudah siap akan ditanam, penulis ditunjuk YPPI untuk bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemerintah Kota Surabaya untuk menentukan tempat menanam tumbuhan hias. Setelah terjadi kesepakatan, maka tempat penanaman disepanjang jalan raya Kertajaya depan kantor Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) sampai depan BCA dan waktu penanaman hari Jum’at, 30 Maret 2007 serta berkenan membuka secara resmi wali kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono. Dengan siswa membuat stek , merawat kemudian menanam sendiri, maka diharapkan akan tumbuh sikap etika lingkungan bila kelak terjun ke masyarakat.
c. Tugas Lintas Pelajaran
Selain itu, sikap etika lingkungan dapat pula ditumbuhsuburkan melalui tugas lintas pelajaran, misalnya topik tentang Pencemaran dapat tugas dari pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Disamping itu, tugas lintas pelajaran ini membuat siswa bebannya lebih ringan sebab membuat satu tugas sekaligus mendapat 3 atau 4 nilai dari mata pelajaran yang berbeda. Dengan demikian akan menambah motivasi siswa untuk lebih mendalami tentang etika lingkungan sebab bukan hanya pelajaran Biologi saja yang mengajarakan tetapi pelajaran yang lainpun juga demikian.
3. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka bila siswa sejak dini ditumbuhsuburkan sikap etika lingkungan melalui berbagai kegiatan, baik melalui GHL, Cinta Puspa maupun Tugas Lintas Pelajaran, maka diharapkan setelah terjun ke masyarakat nanti tidak ada lagi kasus mendirikan bangunan atau perumahan di sekitar waduk tempat penampungan air dan pembabatan hutan yang berakibat resapan air hujan berkurang, sehingga tidak akan ada lagi tsunami jilit 2 seperti waduk Situ Gintung . Semoga.

Jumat, 2009 Februari 20

NGEBLOG, MENGAJAR TANPA BATAS RUANG DAN WAKTU


“NGEBLOG”, MENGAJAR TAK TERBATAS RUANG, WAKTU DAN TEMPAT

Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

Contextual Teaching and Learning (CTL) is a system instruction based on the philosophy that students learn when they see meaning in academic material and the meaning in schoolwork when they can connect new information with prior knowledge and their own experience. Begitu menurut Elaine B. Johnson (2002).

Mencermati pengertian CTL di atas, maka siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh manakala materi pelajaran yang kita ajarkan benar-benar bermanfaat secara langsung bagi kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu contoh aplikasi metode CTL ini adalah dengan membuat blog di internet sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.Masalah yang muncul kemudian adalah, bagaimana cara membuat blog di internet dan menggunakannya untuk tujuan mengajar? Tulisan ini akan mencoba membahas masalah di atas beserta keuntungan dan kerugiannya.

Untuk dapat membuat blog di internet ada beberapa cara, antara lain, kita bisa masuk melalui www.blogger.com, lalu kita ikuti 3 langkah mudah membuat blog. Kita tinggal mengisi data sampai bog kita jadi.Cara lain, bisa juga lewat blog yang sudah jadi, misalnya masuk ke blog penulis : www.wahanaguru.blogspot.com. Setelah masuk kita bisa lihat pojok kanan atas ada kata “buat blog” tinggal kita klik kemudian mengikuti 3 langkah mudah membuat blog seperti di atas. Cara lain lagi, bisa juga melalui www.wordpress.com dan mengikuti langkah-langkah yang diminta. Setelah blog kita jadi, agar lebih menarik kita dapat memilih warna yang kita suka, mengisi blog kita dengan album foto sekolah, slide dari youtube, jumlah pengunjung, pooling, artikel atau materi pelajaran yang akan kita ajarkan. Bisa juga blog kita “link”kan ke media lain, misalnya Jawa Pos, Diknas Surabaya, Diknas Sidoarjo, Diknas Gresik, Pustakamaya, Wiki Pedia dan sebagainya.

Bila blog kita sudah jadi dan cukup menarik, selanjutnya kita isi dengan materi pelajaran yang akan kita ajarkan. Sebagai contoh bila penulis besuk akan praktikum, maka sebelumnya alat dan bahan , prosedur ( cara kerja) dimasukkan terlebih dahulu ke blog, sedang di kelas kita bisa membagi kelompok atau menjawab pertanyaan siswa. Kemudian sebelum pulang, siswa diberitahu alat dan bahan serta prosedur praktikum silakan diakses di www.wahanaguru.blogspot.com. Bila ada hal-hal yang kurang jelas, bisa bertanya dengan meng “klik” comment yang terletak di kanan bawah materi pelajaran atau artikel. Selanjutnya tinggal mengetik apa yang ingin ditanyakan lalu membubuhkan email kita lalu “klik” publikasikan, maka pertanyaan tersebut akan muncul di blog kita dan guru dapat menjawab pertanyaan tersebut dimana saja, kapan saja yang penting ada akses internet.

Dengan mengajar menggunakan blog ini mempunyai beberapa keunggulan (kelebihan), antara lain, kita tidak di batasi waktu di sekolah yang hanya 6 – 9 jam per hari saja. Kita juga bisa mengganti materi pelajaran pada malam hari atau pagi hari sebelum pelajaran dimulai atau kapan saja.Demikian pula kita tidak perlu dibatasi mengajar harus diruang kelas, bisa saja gurunya di rumah, di warnet, di cafe, di maal atau bahkan di taman Bungkul sekalipun. Namun demikian, secara jujur penulis mengakui, metode ini ada kelemahannya, yaitu baik guru maupun siswa harus ada akses internet. Bagaimana menurut pendapat anda ? ( artikel ini pernah dimuat Jawa Pos, hari Jum'at, 23 Januari 2009).

Sabtu, 2008 Agustus 09

BELAJAR ENJOY DENGAN PRAKTIKUM



Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

Pada umumnya, siswa bila disuruh belajar Biologi akan menjawab malas, alasannya, sebab biologi adalah pelajaran yang membosankan, banyak catatannya,banyak nama latinnya dan masih banyak alasan lain ( Mahfud,”Tips Belajar Biologi Dengan Mudah”, www.wahanaguru.blogspot.com, 8 Agustus 2008 ).Namun, akan lain ceritanya bila siswa diberitahu bahwa pelajaran biologi yang akan datang adalah praktikum. Terlebih lagi, bila praktikumnya membedah hewan, maka siswa akan antusias dan bersemangat untuk segera melakukannya.Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana cara membedah hewan sehingga anak-anak antusias untuk segera melakukannya ?

Pertama-tama, alat dan bahan yang dibutuhkan, antara lain, papan bedah, alat bedah ( dissecting kit ), kapas, tissue, alkohol 70 % atau eter, tas kresek,alat tulis, tustel ( handphone berkamera ), jarum pentul, hewan yang akan dibedah dan siswa sendiri harus memakai kaos tangan karet, masker dan jas praktikum. Alat bedah adalah alat yang digunakan untuk kegiatan pembedahan, seperti untuk membedah hewan, manusia atau untuk pembuatan sediaan botani ( www.wikipedia.org, 8 Agustustus 2008 ). Alat bedah berupa dompet kulit yang berisi : pinset (penjepit), tangkai dan daun pisau bedah, gunting bedah, paku bedah bertangkai dan jarum bedah bertangkai.Sedangkan hewan yang biasa digunakan untuk praktikum pembedahan, antara lain ikan mas (Cyprinus carpio), katak hijau ( Rana pipiens ), burung merpati ( Columba livia ), tikus putih (Rattus rattus ).

Cara melakukannya, pertama-tama hewan dibius dengan alkohol 70 % atau eter dengan penggunakan kapas. Setelah hewan pingsan lalu ditelengtangkan pada
p
apan bedah kemudian pada tangan dan kaki ( ujungnya ) dijarum pentul agar tidak bergeser pada saat dibedah. Selanjutnya, hewan siap dibedah bila hewannya ikan, maka pembedahan dimulai dari penutup insang bagian bawah kemudian dilanjutkan sampai sirip belakang. Pada bagian penutup insang digunting ke arah samping sampai separuh tubuh ikan lalu dibuka dan dijarum pentul. Sedang jika hewannya katak, burung merpati, tikus putih, maka setelah hewan dibius kemudian ditelentangkan dan dijarum pentul kaki dan tangannya kemudian pembedahan dimulai dari dada secara melintang kemudian dibawah leher digunting secara membujur sampai mendekati ekor setelah itu digunting lagi secara melintang dekat ekor. Setelah itu, kulit dibuka dan gambar atau dipotret organ dalamnya.

Akhirnya, bila telah selesai hewan percobaan dimasukkan tas kresek dan alat bedah dicuci bersih dan dikeringkan dan dikembalikan ke petugas laboratorium. Selanjutnya, laporan praktikum dibuat perkelompok dan dikumpulkan minggu depan.

Kamis, 2008 Juni 26

GAME "ECOSYSTEM CYCLE" ARTERNATIF MENGAJAR LINGKUNGAN


Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI -2 Surabaya

Selama ini bila kita mengajar ilmu lingkungan ( ekosistem ) di sekolah biasanya menjelaskan secara verbal di kelas, baik menggunakan papan tulis, white board, OHP (Over Head Projector) maupun power point. Bila fasilitas sekolah kita memadai kadang masih ditambah dengan siswa diajak nonton ekosistem melalui VCD (Video Compact Disc). Jarang sekali penulis lihat, guru mengajarkan ekosistem dengan metode game yang melibatkan siswa secara aktif sehingga siswa semakin senang, memahami pentingnya ekosistem bagi kita semua. Metode ini, penulis beri nama “ Game Ecosystem Cycle “.

Pertama-tama, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok terdiri 6 siswa.Setiap kelompok harus ada yang menjadi produsen (tumbuhan hijau), belalang (konsumen I), katak (konsumen II), ular (konsumen III), elang (konsumen IV) dan destruktor (perusak).Agar setiap siswa ingat perannya, maka disetiap punggung siswa diberi tulisan sesuai dengan statusnya dengan karton yang ditali dengan rafia. Selanjutnya, siswa diajak kelapangan atau tempat yang agak lapang, masing-masing kelompok membentuk lingkaran dengan tali rafia dan setiap anggota ekosistem saling memegang tali rafia kecuali destruktor berada 2 meter di luar lingkaran sambil membawa bola tenis meja atau kertas yang digulung dan dipadatkan.Cara memainkan game ini, setelah terbentuk lingkaran kemudian semua anggota memegang tali rafia kecuali destruktor, maka sambil berjalan berputar dan bernyanyi yang telah disepakati kelompok, maka destruktor siap membidikkan bola tenis meja ke salah satu anggota ekosistem yang sedang berjalan berputar sambil bernyanyi tadi.Bila salah satu anggota kelompok terkena lemparan bola, maka ia harus bisa menyebutkan ganti status yang sedang diperankannya.Sebagai contoh, bila yang kena lemparan adalah belalang, maka ia akan dihitung 1 sampai10.Jika ia bisa menyebutkan gantinya, misalnya ia menyebut ulat, maka konsumen I hidup kembali dan lingkaran ekosistem berjalan seperti sedia kala.Sebaliknya, jika siswa yang memperankan belalang tadi setelah dihitung 1 sampai 10 tidak bisa menyebutkan gantinya, maka ia harus keluar dari lingkaran ekosistem dan bergabung dengan destruktor sehingga makin lama ekosistem tersebut semakin tidak seimbang dan sebaliknya destruktornya makin lama makin kuat.

Dengan menggunakan game “ecosistem cycle” dalam mengajarkan ekosistem kepada siswa mempunyai beberapa keuntungan, antara lain : dapat menghilangkan kejenuhan, sebab di luar kelas (outing class) belajar sambil bernyanyi, siswa mudah mengingat sebab setiap siswa akan berusaha menyiapkan gantinya bila terkena lemparan bola dan yang lebih penting siswa dengan senang hati belajar akan pentingnya ekosistem bagi kita semua sedang bagi guru tugasnya lebih ringan, sebab guru dapat menilai secara individu sekaligus nilai kerjasama (kelompok).Bagaimana menurut pendapat anda ?

Rabu, 2008 Mei 28

TUMBUHANPUN MENGERTI KASIH SAYANG


Oleh : Mahfud

Guru Biologi SMP YPPI – 2 Surabaya

1. Rasional

Menyimak kisah kematian pohon – pohon di Metropolis (Jawa Pos, 13 Januari 2006), hati penulis sangat trenyuh. Betapa tidak, pohon beringin (Ficus benyamina) yang sudah berumur puluhan tahun dengan diameter batang setara pelukan 2 orang dewasa yang terletak di tengah – tengah Balai Pemuda Surabaya harus mati hanya gara - gara setiap Kamis malam diberi sesajen dan kemenyan yang dibakar.Di tempat lain, tepatnya di kawasan Gayung Kebonsari, di tepi saluran air sebelah timur, ada sebuah pohon waru (Hibiscus tiliaceus) yang cukup tua ditebang karena posisinya miring ke arah jalan. Di seberang pohon waru tersebut terdapat pohon sono (Pterocarpus indicus) yang tinggi menjulang. Pohon sono itu pun mengalami nasib sama dengan pohon waru karena sering dikepras petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya sehingga sekarang tinggal batangnya yang mengering seperti tiang listrik.

Sementara itu, menarik untuk disimak adalah hasil pendataan fungsi pohon di jalan utama Kota Surabaya oleh Klub Tunas Hijau pada Mei 2005. Yakni, sebanyak 1.968 pohon digunakan untuk beriklan, 338 pohon dibakar, 466 pohon ditebang, dan 77 pohon digunakan untuk menaungi warung atau rumah (Jawa Pos, 13 Januari 2006). Berdasarkan hal tersebut, timbul pertanyaan, mengapa pohon-pohon itu harus mati ? Pertanyaan berikutnya, bagaimana seharusnya sikap warga kota terhadap pohon-pohon tersebut ? Tulisan ini akan mencoba mengulas permasalahan itu.

2. Salah Persepsi

Contoh nyata salah persepsi sebagian warga kota terhadap keberadaan pohon adalah matinya pohon beringin di Balai Pemuda tersebut. Fungsi pohon yang seharusnya sebagai paru-paru kota, pelindung saat panas terik, dan khusus pohon beringin di Balai Pemuda itu konon juga digunakan sebagai background dadakan bila ada pentas seni karena memang akar gantungnya mempunyai nilai estetika tersendiri, justru disalahartikan dengan cara diberi sesajen dan kemenyan (Jawa Pos, 13 Januari 2006).

Sementara itu, kisah kematian pohon waru dan sono di kawasan Gayung Kebonsari, menurut penulis, lebih bersifat teknis dalam pengeprasan pohon. Seharusnya, setiap pengeprasan pohon tidak seluruh cabang dan dahan dihabiskan agar proses fotosintesis masih dapat berlangsung. Penulis kurang setuju, karena takut tumbang, puluhan pohon di jalan Kertajaya dikepras habis (Jawa Pos, 15 Januari 2006). Menurut penulis, di setiap pohon harus ada keseimbangan (balance) antara akar, batang, dan daun. Bila itu tidak terpenuhi, pohon tersebut minimal bentuknya jelek dan yang paling fatal bisa mati karena terganggunya proses fotosintesis. Lihatlah pohon-pohon sono yang telah mencapai keseimbangan membentuk “terowongan” pohon di jalan Walikota Mustajab, depan Rumah Sakit Darmo, dan jalan Rungkut Industri. Melewati kawasan tersebut seolah-olah kita melewati terowongan pohon yang indah dan sejuk.

3. Kasih Sayang

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya sikap warga kota terhadap keberadaan pohon-pohon tersebut, ada baiknya kita ikuti penelitian di Amerika Serikat. Ada beberapa ahli yang mengadakan penelitian untuk mendeteksi tumbuhan tertentu dengan menggunakan alat yang mirip multimeter.Apabila seorang penyayang tumbuhan (gardener) mendekat, “emosi” tumbuhan tersebut normal (jarum alat tersebut menunjuk angka nol). Sebaliknya, jika yang mendekat itu adalah orang yang suka usil (suka merusak tumbuhan), “emosi” tumbuhan tersebut naik.Hal itu dapat dilihat dari jarum grafik alat khusus tersebut.

Penelitian serupa juga dilakukan para ahli dari Universitas Claremnot, Perancis. Objek penelitiannya adalah bunga Marigold (Tithonia difersipholia) atau orang Jawa menyebutnya dengan “Kembang Rembulan” yang berwarna kuning keemasan. Pada penelitian tersebut yang dideteksi adalah bagian apical (ujung) tumbuhan tersebut.Pada akhir penelitian tersebut disimpulkan, bahwa tidak hanya manusia dan hewan saja yang mengerti kasih sayang dan daya ingat, namun tumbuhanpun juga demikian (Mahfud,Gema, 1988).

Kitapun sering melihat tumbuhan elite yang selalu dimanja dan disayang oleh pemiliknya.Bahkan, tidak tanggung-tanggung, tumbuhan tersebut mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi yang dapat menikmatinya. Karena itu, oleh pemiliknya tumbuhan tersebut sering dipajang di ruang tamu yang sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri. Tumbuhan yang dimaksud adalah “bonsai” yang sekarang sedang populer di negara kita. Sebetulnya, jika kita mau berfikir logis, tumbuhan itu secara tidak langsung dirugikan haknya untuk tumbuh menjadi tumbuhan normal. Tetapi, tumbuhan tersebut tidak pernah menggugat ke pengadilan, bahkan sebaliknya dengan dikerdilkan, tumbuhan tersebut justru menunjukkan kebolehannya. Mengapa demikian ? Sebab, dalam mengerdilkan tanaman tersebut, manusia tidak gegabah memotong begitu saja, melainkan diperlukan ketrampilan khusus dan ketekunan dengan penuh kasih sayang. Bahkan, untuk mendapatkan bentuk bonsai yang mempunyai nilai seni tinggi, diperlukan kontemplasi (perenungan) yang mendalam (H.J. Larkin, 1984). Dengan demikian, tidak heran bila tumbuhan tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Pernahkah anda memikirkan tumbuhan kerdil itu ? Cobalah perhatikan, ia seolah-olah tersenyum manja kepada kita karena disayangi pemiliknya.

Sebetulnya, tumbuhan itu menurut saja, apakah ia dirawat dengan baik atau dirusak, dipaku untuk iklan, atau dibiarkan saja, ia tidak pernah protes. Hanya orang-orang yang mempunyai kepekaan tinggi sajalah yang mengerti “keluhan dan rintihan” tumbuhan. Karena itu, penulis sangat salut dan angkat topi terhadap gebrakan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya yang menggalakan taman-taman kota dan hutan kota dengan menanam pohon mahoni (Swietenia mahagoni) di tepi-tepi jalan.Semoga.( Pernah dimuat Jawa Pos, 22 Januari 2006 )

Kamis, 2008 Mei 22

KEARIFAN LOKAL DALAM MELESTARIKAN SUMBER AIR DAN HUTAN

Oleh : Mahfud
Guru Biologi SMP YPPI - 2 Surabaya

1. Rasional

Jaman dahulu para petani di pulau Jawa, Bali dan pulau – pulau lain di tanah air, punya cara tersendiri dalam melestarikan sumber air dan hutan. Menurut catatan sejarah.Pulau Jawa dahulu dapat mengekspor beras dan hasil panen lainnya ke negara lain, misalnya Siam, Cempa, Hindustan (Pakistan) dan Tiongkok (RRC). Bahkan, di jaman penjajahan (Belanda dan Jepang), hasil panen pulau Jawa bisa memberi penghidupan negara yang menjajah ( Siegfried Tedja, 2006 : 3 ).

Seiring dengan perkembangan jaman, keadaan di pedesaanpun juga berubah, banyak jenis tanaman dan hewan yang dahulu banyak saat ini telah punah. Bersamaan dengan hilangnya keanekaragaman flora dan fauna tersebut, banyak tata cara yang baik dalam melestarikan alampun ikut hilang. Berdasarkan hal di atas, maka pada hari Minggu – Rabu, 23 – 26 Juli 2006, Lembaga Lingkungan Hidup “Pring Woeloeng” yang bekerjasama dengan ESP – USAID (Environmental Services Program – United States Agency International Development), menyelenggarakan lokakarya tentang “ Cara Melestarikan Sumber Air dan Hutan “ bertempat di Vanda Gardenia Trawas dan Balai Pendidikan dan Latihan PLN Pandaan yang dilanjutkan dengan peninjauan ke lokasi – lokasi sumber mata air di sekitar gunung Penanggungan, Welirang dan Arjuna, sebab dari ketiga gunung inilah asal muasal sumber air mengalir ke sungai – sungai di Jawa Timur termasuk ke kota metropolis Surabaya ini. Lokakarya ini diikuti dari para tokoh masyarakat, pelajar, pendidik, dan para akademisi dari berbagai universitas serta ada tamu undangan dari Singapura, Australia dan Amerika Serikat.

2. Sumber Mata Air

Berdasarkan hasil peninjauan ke lokasi – lokasi sumber mata air selama 2 hari, terdapat 18 sumber mata air yang tersebar di 6 kecamatan dan 3 Kabupaten yang selengkapnya seperti tampak pada tabel di bawah ini :

TABEL LOKASI SUMBER MATA AIR

NO

NAMA SUMBER

DESA

KEC.

KAB.

01.

Jolotundo

Seloliman

Trawas

Mojokerto

02.

Sumb. Macan

Trawas

Trawas

Mojokerto

03.

Tamiajeng

Tamiajeng

Trawas

Mojokerto

04.

Mbeji

Tamiajeng

Trawas

Mojokerto

05.

Njibru

Mbelik

Trawas

Mojokerto

06.

Kedungudi

Sri Gading

Trawas

Mojokerto

07.

Claket

Claket

Pacet

Mojokerto

08.

Kemendung

Penanggungan

Pacet

Mojokerto

09.

Send. Drajat

Penanggungan

Pacet

Mojokerto

10.

Selotapak

Selotapak

Pacet

Mojokerto

11.

Jaten

Selotapak

Pacet

Mojokerto

12.

Banyubiru

Banyubiru

Ranugrati

Pasuruan

13.

Ranugrati

R. Klindungan

Ranugrati

Pasuruan

14.

Pring Wulung

Karangrejo

Purwodadi

Pasuruan

15.

Mbetro

Wonosonyo

Gempol

Pasuruan

16.

Sumber Tetek

Mbelahan

Gempol

Pasuruan

17.

Ken Dedes

Singosari

Singosari

Malang

18.

Sumber Awan

Toyo Marto

Singosari

Malang

Sumber : Hasil Lokakarya, 23 – 26 Juli 2006

Berdasarkan letak geografisnya, ke 18 sumber mata air di atas terletak di sekitar gunung Penanggungan, Welirang dan Arjuna yang pada umumnya di tepi hutan, dekat pemukiman penduduk dan ada pula yang dekat vila, seperti mata air sumber macan di desa Trawas serta ada pula yang menjadi tempat wisata, seperti sumber mata air Ken Dedes, Banyubiru dan Ranugrati. Dari pengamatan penulis selama mengunjungi lokasi sumber mata air tersebut, memang cukup memprihatinkan, terutama mata air sumber macan di desa Trawas, boleh dikatakan “ hidup segan mati tak mau “. Mengapa ? Sebab menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, di dekat lokasi sumber mata air tersebut didirikan perusahaan air bersih / air minum yang setiap hari diangkut bertanki – tanki air dibawa ke Surabaya. Oleh sebab itu, wajar saja bila musim kemarau tiba desa – desa di bawah yang letaknya agak jauh dari sumber tersebut mengalami kekurangan air.

Sementara itu, sumber mata air yang masih cukup bagus, misalnya mata air Sumber Awan yang terletak di Desa Toyo Marto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Konon , sumber mata air ini dalam kitab Negarakertagama disebut dengan telaga Kasurangganan yang merupakan tempat persinggahan Prabu Hayam Wuruk pada jaman kejayaan kerajaan Majapahit ( Suwardono,2006 : 16 ) Sedang sumber mata air paling jernih adalah sumber air Jolotundo yang terletak di desa Seloliman (Hasil penelitian UNESCO tahun 2001 terjernih nomor 3 di dunia ). Konon, sumber mata air ini merupakan tempat peristirahatan Prabu Airlangga beserta pengikutnya pada saat kerajaan Prabu Dharmawangsa (Dharmadinasti) diserang pasukan dari kerajaanWurawari, yaitu kerajaan bawahan dari Medang Kamulan yang
bersekutu dengan kerajaan Sriwijaya ( Umasih, 2004 : 29 ).

3. KEARIFAN LOKAL

Pada hari Minggu, 3 September 2006 penulis mendapat kesempatan mengunjungi acara “Bersih Desa” dari desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Acara “Bersih Desa” tersebut diawali dengan “khataman,” yaitu membaca kitab suci mulai awal sampai akhir yang dilanjutkan dengan acara “Kurban”, yaitu menyembelih sapi lalu dagingnya dibagi ke seluruh warga desa. Pada sore harinya, acara dilanjutkan dengan “Arak-arakan”, yaitu berjalan bersama-sama seluruh warga desa sambil membawa makanan menuju sumber mata air Claket. Setelah sampai pada sumber mata air, diadakan acara “Selamatan” seluruh warga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya berupa sumber air sehingga dapat memberi penghidupan seluruh warga yang sehari sebelumnya tempat tersebut dibersihkan terlebih dahulu dan ditanami pohon.Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan hiburan, berupa pertunjukkan kesenian tradisional yang disebut “Ludruk”.

Sementara itu, acara serupa juga digelar di tempat lain tepatnya di desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Pada hari Minggu – Senin, 30 – 31 Maret 2006 acara diawali dengan pertunjukan “ Nyai Putut”, yaitu pertunjukan magis semacam jelangkung dengan perantaraan boneka yang terbuat dari keranjang dan perlengkapan lainnya.Keesokan harinya, diadakan acara “Bersih Desa”. Seluruh warga desa berbondong-bondong menuju sumber mata air yang disebut “Sumber Pucung” sambil membawa sesaji berupa “Nasi Tumpeng”. Sesampai di sumber air tersebut, diadakanlah acara “Do’a Keselamatan” bagi seluruh warga desa. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan “Tari Tayub”dan malam harinya diselenggarakan pertunjukkan “Wayang Kulit” semalam suntuk (Kompas, 31 Maret 2006).

4. JENIS TUMBUHAN

Berdasarkan hasil kunjungan ke lokasi-lokasi sumber mata air selama 2 hari (24-25 Juli 2006) penulis mencatat jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitar lokasi sumber air adalah sebagai berikut :

TABEL JENIS TUMBUHAN DI SEKITAR SUMBER AIR

NO

NAMA LOKAL

NAMA ILMIAH

MANFAAT

01.

Beringin

Ficus benyamina

Peneduh

02.

Pohon Lo

Ficus glomerata

Peneduh

03.

Pohon Bulu

Ficus annulata

Peneduh

04.

Gondang

Ficus variegate

Peneduh

05.

Lowing

Ficus hispida

Peneduh

06.

Amplas

Ficus ampelas

Penghalus

07.

Pohon Pule

Plumbago capensis

Jamu

08.

Kemado

Alstonia spolaris

Obat gatal

09.

Bendo

Artocarpus elasticus

Bahan bangunan

10.

Nangka

Artocarpus integra

Buah & bangunan

11.

Keluwih

Artocarpus communis

Sayuran

12.

Kemloko

Phyllanthus emblica

Peneduh

13.

Pohon Trawas

Tetranthera trawas

Jamu & bangunan

14.

Pace ( Kemudu )

Morinda citrifolia

Bahan obat

15.

Pandan

Pandanus tectorius

Pewarna alami

16.

Semangka

Citrulus vulgaris

Buah

17.

Klerak

Sapindus rarak

Bahan pembersih

18.

Pisang

Musa paradisiaca

Buah

19.

Talas

Caladium esculenta

Sayuran

20.

Bambu ori

Bambussa javanica

Bahan bangunan

21.

Asoka

Ixora coccinen

Tanaman hias

22.

Rotan

Calamus javensis

Bahan perabotan

23.

Enceng gondok

Eichornia crassipes

Gulma air

24.

Gayam

Inocarpus edulis

Peneduh

25.

Pinus

Pinus merkussii

Bahan kertas

Sumber : Hasil Lokakarya, 23 – 26 Juli 2006

Berdasarkan hasil diskusi dengan peserta lokakarya, jenis-jenis tanaman di atas selain Pinus ( Pinus merkusii ) semua bermanfaat menyimpan air disamping manfaat yang telah disebutkan di atas. Sebab pada umumnya sumber mata air keluar dari akar tanaman yang telah disebutkan diatas.

5. PENUTUP

Dengan mencermati uraian di atas, maka untuk dapat melestarikan sumber mata air dan hutan kita tidak lepas dari upayamelestarikan kearifan lokal penduduk di sekitar sumber mata air dan hutan serta jenis-jenis tumbuhan yang mampu menyimpan air.Sebab sumber mata air ini merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di muka bumi ini.