
Oleh : Mahfud
Guru Biologi SMP YPPI - 2 Surabaya
1. Rasional
Jaman dahulu para petani di pulau Jawa, Bali dan pulau – pulau lain di tanah air, punya cara tersendiri dalam melestarikan sumber air dan hutan. Menurut catatan sejarah.Pulau Jawa dahulu dapat mengekspor beras dan hasil panen lainnya ke negara lain, misalnya Siam, Cempa, Hindustan (Pakistan) dan Tiongkok (RRC). Bahkan, di jaman penjajahan (Belanda dan Jepang), hasil panen pulau Jawa bisa memberi penghidupan negara yang menjajah ( Siegfried Tedja, 2006 : 3 ).
Seiring dengan perkembangan jaman, keadaan di pedesaanpun juga berubah, banyak jenis tanaman dan hewan yang dahulu banyak saat ini telah punah. Bersamaan dengan hilangnya keanekaragaman flora dan fauna tersebut, banyak tata cara yang baik dalam melestarikan alampun ikut hilang. Berdasarkan hal di atas, maka pada hari Minggu – Rabu, 23 – 26 Juli 2006, Lembaga Lingkungan Hidup “Pring Woeloeng” yang bekerjasama dengan ESP – USAID (Environmental Services Program – United States Agency International Development), menyelenggarakan lokakarya tentang “ Cara Melestarikan Sumber Air dan Hutan “ bertempat di Vanda Gardenia Trawas dan Balai Pendidikan dan Latihan PLN Pandaan yang dilanjutkan dengan peninjauan ke lokasi – lokasi sumber mata air di sekitar gunung Penanggungan, Welirang dan Arjuna, sebab dari ketiga gunung inilah asal muasal sumber air mengalir ke sungai – sungai di Jawa Timur termasuk ke kota metropolis Surabaya ini. Lokakarya ini diikuti dari para tokoh masyarakat, pelajar, pendidik, dan para akademisi dari berbagai universitas serta ada tamu undangan dari Singapura, Australia dan Amerika Serikat.
2. Sumber Mata Air
Berdasarkan hasil peninjauan ke lokasi – lokasi sumber mata air selama 2 hari, terdapat 18 sumber mata air yang tersebar di 6 kecamatan dan 3 Kabupaten yang selengkapnya seperti tampak pada tabel di bawah ini :
TABEL LOKASI SUMBER MATA AIR
| NO | NAMA SUMBER | DESA | KEC. | KAB. |
| 01. | Jolotundo | Seloliman | Trawas | Mojokerto |
| 02. | Sumb. Macan | Trawas | Trawas | Mojokerto |
| 03. | Tamiajeng | Tamiajeng | Trawas | Mojokerto |
| 04. | Mbeji | Tamiajeng | Trawas | Mojokerto |
| 05. | Njibru | Mbelik | Trawas | Mojokerto |
| 06. | Kedungudi | Sri Gading | Trawas | Mojokerto |
| 07. | Claket | Claket | Pacet | Mojokerto |
| 08. | Kemendung | Penanggungan | Pacet | Mojokerto |
| 09. | Send. Drajat | Penanggungan | Pacet | Mojokerto |
| 10. | Selotapak | Selotapak | Pacet | Mojokerto |
| 11. | Jaten | Selotapak | Pacet | Mojokerto |
| 12. | Banyubiru | Banyubiru | Ranugrati | Pasuruan |
| 13. | Ranugrati | R. Klindungan | Ranugrati | Pasuruan |
| 14. | Pring Wulung | Karangrejo | Purwodadi | Pasuruan |
| 15. | Mbetro | Wonosonyo | Gempol | Pasuruan |
| 16. | Sumber Tetek | Mbelahan | Gempol | Pasuruan |
| 17. | Ken Dedes | Singosari | Singosari | Malang |
| 18. | Sumber Awan | Toyo Marto | Singosari | Malang |
Sumber : Hasil Lokakarya, 23 – 26 Juli 2006
Berdasarkan letak geografisnya, ke 18 sumber mata air di atas terletak di sekitar gunung Penanggungan, Welirang dan Arjuna yang pada umumnya di tepi hutan, dekat pemukiman penduduk dan ada pula yang dekat vila, seperti mata air sumber macan di desa Trawas serta ada pula yang menjadi tempat wisata, seperti sumber mata air Ken Dedes, Banyubiru dan Ranugrati. Dari pengamatan penulis selama mengunjungi lokasi sumber mata air tersebut, memang cukup memprihatinkan, terutama mata air sumber macan di desa Trawas, boleh dikatakan “ hidup segan mati tak mau “. Mengapa ? Sebab menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, di dekat lokasi sumber mata air tersebut didirikan perusahaan air bersih / air minum yang setiap hari diangkut bertanki – tanki air dibawa ke Surabaya. Oleh sebab itu, wajar saja bila musim kemarau tiba desa – desa di bawah yang letaknya agak jauh dari sumber tersebut mengalami kekurangan air.
Sementara itu, sumber mata air yang masih cukup bagus, misalnya mata air Sumber Awan yang terletak di Desa Toyo Marto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Konon , sumber mata air ini dalam kitab Negarakertagama disebut dengan telaga Kasurangganan yang merupakan tempat persinggahan Prabu Hayam Wuruk pada jaman kejayaan kerajaan Majapahit ( Suwardono,2006 : 16 ) Sedang sumber mata air paling jernih adalah sumber air Jolotundo yang terletak di desa Seloliman (Hasil penelitian UNESCO tahun 2001 terjernih nomor 3 di dunia ). Konon, sumber mata air ini merupakan tempat peristirahatan Prabu Airlangga beserta pengikutnya pada saat kerajaan Prabu Dharmawangsa (Dharmadinasti) diserang pasukan dari kerajaanWurawari, yaitu kerajaan bawahan dari Medang Kamulan yang
bersekutu dengan kerajaan Sriwijaya ( Umasih, 2004 : 29 ).
3. KEARIFAN LOKAL
Pada hari Minggu, 3 September 2006 penulis mendapat kesempatan mengunjungi acara “Bersih Desa” dari desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Acara “Bersih Desa” tersebut diawali dengan “khataman,” yaitu membaca kitab suci mulai awal sampai akhir yang dilanjutkan dengan acara “Kurban”, yaitu menyembelih sapi lalu dagingnya dibagi ke seluruh warga desa. Pada sore harinya, acara dilanjutkan dengan “Arak-arakan”, yaitu berjalan bersama-sama seluruh warga desa sambil membawa makanan menuju sumber mata air Claket. Setelah sampai pada sumber mata air, diadakan acara “Selamatan” seluruh warga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya berupa sumber air sehingga dapat memberi penghidupan seluruh warga yang sehari sebelumnya tempat tersebut dibersihkan terlebih dahulu dan ditanami pohon.Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan hiburan, berupa pertunjukkan kesenian tradisional yang disebut “Ludruk”.
Sementara itu, acara serupa juga digelar di tempat lain tepatnya di desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Pada hari Minggu – Senin, 30 – 31 Maret 2006 acara diawali dengan pertunjukan “ Nyai Putut”, yaitu pertunjukan magis semacam jelangkung dengan perantaraan boneka yang terbuat dari keranjang dan perlengkapan lainnya.Keesokan harinya, diadakan acara “Bersih Desa”. Seluruh warga desa berbondong-bondong menuju sumber mata air yang disebut “Sumber Pucung” sambil membawa sesaji berupa “Nasi Tumpeng”. Sesampai di sumber air tersebut, diadakanlah acara “Do’a Keselamatan” bagi seluruh warga desa. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan “Tari Tayub”dan malam harinya diselenggarakan pertunjukkan “Wayang Kulit” semalam suntuk (Kompas, 31 Maret 2006).
4. JENIS TUMBUHAN
Berdasarkan hasil kunjungan ke lokasi-lokasi sumber mata air selama 2 hari (24-25 Juli 2006) penulis mencatat jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitar lokasi sumber air adalah sebagai berikut :
TABEL JENIS TUMBUHAN DI SEKITAR SUMBER AIR
| NO | NAMA LOKAL | NAMA ILMIAH | MANFAAT |
| 01. | Beringin | Ficus benyamina | Peneduh |
| 02. | Pohon Lo | Ficus glomerata | Peneduh |
| 03. | Pohon Bulu | Ficus annulata | Peneduh |
| 04. | Gondang | Ficus variegate | Peneduh |
| 05. | Lowing | Ficus hispida | Peneduh |
| 06. | Amplas | Ficus ampelas | Penghalus |
| 07. | Pohon Pule | Plumbago capensis | Jamu |
| 08. | Kemado | Alstonia spolaris | Obat gatal |
| 09. | Bendo | Artocarpus elasticus | Bahan bangunan |
| 10. | Nangka | Artocarpus integra | Buah & bangunan |
| 11. | Keluwih | Artocarpus communis | Sayuran |
| 12. | Kemloko | Phyllanthus emblica | Peneduh |
| 13. | Pohon Trawas | Tetranthera trawas | Jamu & bangunan |
| 14. | Pace ( Kemudu ) | Morinda citrifolia | Bahan obat |
| 15. | Pandan | Pandanus tectorius | Pewarna alami |
| 16. | Semangka | Citrulus vulgaris | Buah |
| 17. | Klerak | Sapindus rarak | Bahan pembersih |
| 18. | Pisang | Musa paradisiaca | Buah |
| 19. | Talas | Caladium esculenta | Sayuran |
| 20. | Bambu ori | Bambussa javanica | Bahan bangunan |
| 21. | Asoka | Ixora coccinen | Tanaman hias |
| 22. | Rotan | Calamus javensis | Bahan perabotan |
| 23. | Enceng gondok | Eichornia crassipes | Gulma air |
| 24. | Gayam | Inocarpus edulis | Peneduh |
| 25. | Pinus | Pinus merkussii | Bahan kertas |
Sumber : Hasil Lokakarya, 23 – 26 Juli 2006
Berdasarkan hasil diskusi dengan peserta lokakarya, jenis-jenis tanaman di atas selain Pinus ( Pinus merkusii ) semua bermanfaat menyimpan air disamping manfaat yang telah disebutkan di atas. Sebab pada umumnya sumber mata air keluar dari akar tanaman yang telah disebutkan diatas.
5. PENUTUP
Dengan mencermati uraian di atas, maka untuk dapat melestarikan sumber mata air dan hutan kita tidak lepas dari upayamelestarikan kearifan lokal penduduk di sekitar sumber mata air dan hutan serta jenis-jenis tumbuhan yang mampu menyimpan air.Sebab sumber mata air ini merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di muka bumi ini.